Selasa, 18 November 2025

Dari Empati Jadi Bisnis: Kisah Happy Salma Menghidupkan Kembali Motif Komunal Lewat Perhiasan

Bisnis tidak hanya bicara tentang produk dan keuntungan, tetapi juga orang-orang yang terlibat serta permasalahan yang dihadapi. Ada satu pendekatan yang dipakai oleh pebisnis dan pegiat startup dalam memecahkan masalah, yaitu design thinking. Pendekatan ini diawali dengan proses berempati untuk memahami sudut pandang dan perasaan pelanggan (customer) agar dapat menemukan solusi yang tepat. Inilah yang dilakukan Happy Salma sebagai owner Tulola Design. Lebih jauh lagi, empatinya bahkan menyentuh sisi kebudayaan yang mulai pudar dan menurunnya jumlah pengrajin perhiasan.

Melalui acara talkshow Temu Wirasa Stakeholders yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali pada hari Rabu, 12 November 2025, sosok public figure ini menjadi salah satu narasumber inspiratif. Hal yang menarik dari pemaparannya adalah bagaimana ia menemukan peluang dari nilai-nilai budaya sebagai penghidupan untuk masyarakat lokal.

Happy Salma (tengah) bersama Djoko Kurniawan (kiri) dan Cak Lontong sebagai moderator (kanan) pada acara Talkshow Temu Wirasa Stakeholders 2025

Sumber: Bali Viral News

 

Awal Mengenal Motif Komunal

Berawal dari mendengar berita motif komunal yang dihakpatenkan oleh orang asing, Happy Salma terenyuh. Meski saat itu baru mengenal istilah motif komunal, hatinya tergerak untuk mengambil kembali warisan yang seharusnya menjadi identitas orang Indonesia.

Aktris yang juga dikenal dengan nama Jro Happy Salma Wanasari ini juga berempati dengan menurunnya jumlah pengrajin perhiasan di Bali. Saat berita motif komunal tersebut beredar, salah satu rekannya yang memiliki usaha perhiasan mengatakan bahwa pegawainya berkurang dari seratus menjadi empat orang.

Happy Salma mencoba mencari benang merah di antara dua permasalahan tersebut dengan melahirkan Tulola Design. Motif-motif komunal dihidupkan kembali melalui tangan-tangan pengrajin di Bali. Motif komunal yang dulu hanya digunakan untuk upacara, kini sudah dikomersialkan dan dikenal luas. Yang tidak kalah penting, saat ini sudah ada lebih dari seratus pengrajin perhiasan motif komunal yang berproses bersama Tulola Design.

 

Jembatan Masa Lalu dan Masa Kini

Orang asing bisa saja mengeklaim bentuk fisik dari motif komunal, tetapi mereka belum tentu paham makna filosofis dan kebijaksanaan para leluhur kita yang melahirkan motif-motif tersebut. Tantangan yang dihadapi Happy Salma dan tim adalah bagaimana menerjemahkan pemikiran leluhur di masa lampau kepada generasi masa kini.

Dengan kreativitasnya, Happy Salma menggunakan teknik storytelling untuk setiap deskripsi produk perhiasan. Rekannya juga mentransformasikan bentuk-bentuk motif komunal menjadi desain yang lebih sederhana agar produk-produk Tulola Design bisa dikenakan di berbagai situasi.

 

Perpaduan desain perhiasan dengan motif komunal yang otentik dan narasi yang kuat

Sumber: Catalog – Tulola Jewelry

 

Database: Kunci Keberlanjutan Bisnis

Sejak awal, Happy Salma dan tim sudah konsisten menggunakan data. Selain untuk memudahkan proses desain, pembuatan database bertujuan untuk mengumpulkan warisan leluhur yang tidak ada nama penciptanya agar tidak semakin banyak motif komunal yang dihakpatenkan oleh orang asing.

Seiring berkembangnya Tulola Design, database digunakan untuk mengetahui perilaku customer. Mulai dari frekuensi berbelanja hingga nominal harga perhiasan yang terjual, semuanya didata. Customer yang berbelanja dengan rentang nominal tertentu dibuatkan katalog khusus yang sesuai dengan preferensi mereka. Nantinya, mereka di-reach out kembali dan ditawarkan katalog tersebut.

Happy Salma menegaskan bahwa data angka itu sangat penting karena menghilangkan berbagai macam asumsi. Inilah yang menjadi kunci keberlanjutan bisnis Tulola Design sehingga mampu bertahan menghadapi kompetitor dan perkembangan zaman.

 

Rasa Percaya Diri Menumbuhkan Dampak Ekonomi

Selain empati, rasa percaya diri adalah modal penting dalam membangun bisnis. Walaupun sudah menjadi sosok terkenal, ia tidak malu berjualan dan tes pasar (market) ke teman-temannya. Baginya, rasa percaya diri bisa membangun market dan dampak ekonomi akan muncul dengan sendirinya.

Djoko Kurniawan sebagai narasumber kedua turut setuju mengenai rasa percaya diri dalam berbisnis. Sebagai Senior Business Consultant, ia juga menekankan apapun bisa dijadikan bisnis asalkan konsepnya benar dan matang, seperti yang sudah dilakukan oleh Happy Salma.


Sabtu, 27 Agustus 2022

Hoaks Di Mana-mana, Tidak Perlu Berhenti Bermedia Sosial

Aku baru tahu ternyata pesan Whatsapp hanya bisa diteruskan maksimal lima kali. Mungkin aku baru sadar karena selama ini tidak pernah meneruskan pesan berkali-kali. Ada yang baru tahu juga? Iya, fitur ini mulai diterapkan 17 April 2019 silam untuk mempersulit penyebaran pesan bohong oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. [1] Namun, hoaks masih bertebaran di media sosial lainnya.


Januari 2020, virus SARS-CoV-2 menyebar ke berbagai belahan dunia. Dan parahnya, virus berita bohong juga turut serta meramaikan pandemi Covid-19 tersebut. Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), berita bohong terkait Covid-19 paling banyak ditemukan di Facebook (3.351), Twitter (554), Instagram (32 konten), dan Youtube (49 konten). [2] Memang, sejak kasus Covid-19 pertama di Indonesia masyarakat dihimbau untuk isolasi mandiri dan mengalihkan aktivitas rutin ke metode daring. Hal ini menjadi salah satu penyebab netizen menghabiskan banyak waktu bermedia sosial dan meningkatnya kemungkinan terpapar hoaks. Dalam kondisi yang seperti itu, seharusnya kita lebih sadar dan selektif terhadap informasi yang kita terima.
 

"You are what you read." - Esko Valtaoja

Kamu adalah apa yang kamu baca, begitulah terjemahan dari kutipan tersebut. Apapun yang kita baca akan terekam di ingatan dan memengaruhi alam bawah sadar. Semakin banyak kita membaca berita palsu, lama-kelamaan kita akan terpengaruh dan percaya dengan berita tersebut. Terus, kita harus bagaimana?

Cakap Literasi Digital Sebagai Bekal Bermedia Sosial

Jika dilihat sekilas, cukup sulit untuk membedakan hoaks dan berita yang valid. Perlu usaha lebih untuk memastikan apakah suatu informasi berasal dari sumber yang tepercaya atau tidak. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia sadar betapa pentingnya kecakapan literasi digital dalam menggunakan perangkat keras dan piranti lunak. Dengan begitu, masyarakat akan dapat bermedia sosial yang positif, kreatif, dan aman. [3]
 

Di Manapun Kita Berada, Tetap Etika yang Utama

Clickbait kini menjadi tren. Seringkali judul berita 'dipaksakan' untuk menjebak pembaca. Tetapi, siapa yang tidak 'panas' melihat berita palsu yang memicu debat kusir atau bahkan menyudutkan salah satu pihak?

Media sosial digunakan oleh jutaan orang dengan beragam karakter dan latar belakang. Etika tentu berperan penting dalam proses berkomunikasi dan kolaborasi secara digital. Tidak hanya sebatas itu, etika digital juga mencakup bagaimana kita menjaga privasi dan keamanan data digital. Menurut Anang Dwi Santoso, dosen Universitas Sriwijaya, materi keamanan berkaitan dengan konten negatif yang harus dihindari, hoaks salah satunya.  [4]
 

Solusi Bijak Bagi yang Pernah Menyebarkan Hoaks

Pernah tidak sengaja menyebarkan fake news? Berikut cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya menurut Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia sekaligus Masyarakat Indonesia Anti Hoax.

1. Tidak menghapus unggahan
Hoaks yang dihapus belum tentu akan menyelesaikan masalah. Biarkan saja berita tersebut pada sosial media kalian, agar pembaca bisa mengecek ulang jika ada pembaruan informasi.

2. Buat klarifikasi
Sampaikanlah bahwa informasi yang diunggah tersebut salah, lalu sertai dengan informasi yang benar. Klarifikasi dapat dicantumkan pada kolom komentar sehingga informasi yang valid bisa ikut tersebar ke orang yang menyukai atau membagikan unggahan tersebut. Selain itu, klarifikasi juga dapat dibuat dalam bentuk unggahan baru yang terpisah.

3. Hubungi pihak yang menyebarkan berita bohong

Pihak yang menyebarkan dan menyukai unggahan hoaks sepatutnya ikut bertanggung jawab. Jika memungkinkan, coba hubungi mereka agar turut serta memberi dan menyebarkan unggahan klarifikasi. Walaupun sulit, setidaknya ada niat baik untuk memperbaiki dan kedepannya berhati-hati agar tidak mengulanginya. [5]


Tidak usah khawatir dengan maraknya hoaks yang beredar di sekeliling kita, apalagi sampai berhenti bermedia sosial. Jika kita mempunyai kemampuan literasi dan beretika digital, kita pasti bisa memilah informasi mana yang patut dipercaya. Ayo saring sebelum sharing!


Catatan Kaki
[1] Halau Hoaks, WhatsApp Batasi Forward Pesan 5 Kali - Inilah.com

[2] Melawan Hoaks yang Mematikan - Inilah.com

[3] Hindari Penipuan Online dengan Cakap Literasi Digital - Inilah.com

[4] Saat Bermain Media Sosial Perlu Perhatikan Etika Digital - Inilah.com

[5] Lakukan Hal Ini Apabila Tak Sengaja Menyebar Hoax - Inilah.com